Cretive for Better Future

Sciences & Business

TEKNOLOGI PENGEMASAN, DESAIN DAN PELABELAN KEMASAN PRODUK MAKANAN

TEKNOLOGI PENGEMASAN, DESAIN DAN PELABELAN KEMASAN PRODUK MAKANAN

Oleh : Wawan Agustina

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna (B2PTTG)
Jl. K.S Tubun No. 5 Subang, Jawa barat, Telp. (0260) 411478, 422878
e-mail : wan_agustina@yahoo.co.id

I. PENDAHULUAN

a. Pengertian Kemasan dan Permasalahannya

Pengemasan adalah suatu proses pembungkusan, pewadahan atau pengepakan suatu produk dengan menggunakan bahan tertentu sehingga produk yang ada di dalamnya bisa tertampung dan terlindungi. Sedangkan kemasan produk adalah bagian pembungkus dari suatu produk yang ada di dalamnya. Pengemasan ini merupakan salah satu cara untuk mengawetkan atau memperpanjang umur dari produk-produk pangan atau makanan yang terdapat didalamnya.

Teknologi Pengemasan terus berkembang dari waktu ke waktu dari mulai proses pengemasan yang sederhana atau tradisional dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti dedaunan atau anyaman bambu sampai teknologi modern seperti saat ini. Dalam teknologi pengemasan modern misalnya jaman dulu orang membuat tempe di bungkus dengan daun pisang atau daun jati, membungkus gula aren dengan daun kelapa atau daun pisang kering. Teknologi pengemasan yang semakin maju dan modern telah hampir meniadakan penggunaan bahan pengemas tradisional. diantara contoh-contoh pengemasan modern diantaranya menggunakan bahan plastik, kaleng/logam, kertas komposit, dan lain sebagainya.

Pengemasan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan mutlak diperlukan dalam persaingan dunia usaha seperti saat ini. Saat ini kemasan merupakan faktor yang sangat penting karena fungsin dan kegunaanya dalam meningkatkan mutu produk dan daya jual dari produk.
Kemasan produk dan labelnya selain berfungsi sebagai pengaman produk yang terdapat di dalamnya juga berfungsi sebagai media promosi dan informasi dari produk yang bersangkutan. Kemasan produk yang baik dan menarik akan memberikan nilai tersendiri sebagai daya tarik bagi konsumen. Namun demikian, sampai saat ini kemasan produk masih merupakan masalah bagi para pengelola usaha, khususnya Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

Permasalahan tentang kemasan produk dan labelnya kadang-kadang menjadi kendala bagi perkembangan atau kemajuan suatu usaha. Banyak persoalan yang muncul ketika suatu usaha ingin memiliki suatau kemasan produk yang baik, berkualitas dan memenuhi standar nasional yang ada. Persoalan-persoalan yang sering dihadapi seperti bahan pengemas, desain bentuk kemasan, desain label, sampai pada persoalan yang paling utama yaitu biaya pembuatan kemasan itu sendiri.

Bagi para pengelola UMKM dengan segala keterbatasan modal usaha sebaiknya permasalahan tentang kemasan bisa ditangani dengan kreativitasnya. Kemasan yang baik dan menarik tidak selalu identik dengan harga kemasan yang mahal. Dengan bahan pengemas yang biasa-biasa saja, asalkan dirancang sedemikian rupa baik bentuk maupun desain labelnya pastilah akan tercipta sebuah kemasan yang tidak kalah bersaing dengan kemasan-kemasan modern.

b. Fungsi dan Kegunaan Kemasan

Kemasan merupakan faktor penting dalam sebuah usaha pengolahan makanan karena fungsi dan kegunaan dari kemasan itu sendiri. Secara umum fungsi kemasan adalah sebagai bahan pelindung atau pengaman produk dari pengaruh-pengaruh luar yang dapat mempercepat terjadinya kerusakan pada makanan yang terdapat di dalamnya. Namun demikian selain itu kemasan masih memiliki fungsi-fungsi atau kegunaan lain yang tidak kalah pentingnya seperti mempermudah distribusi atau pengontrolan produk dan bahkan saat ini ada fungsi yang sangat penting yaitu kemasan sebagai media atau sarana informasi dan promosi dari produk yang ditawarkan yang ada di dalam kemasan.
Secara lebih terperinci berikut ini adalah sekilas penjelasan singkat tentang fungsi dan peranan kemasan dalam usaha pengolahan makanan :
1. Sebagai wadah, perantara produk selama pendistribusian dari produsen ke konsumen.
2. Sebagai Pelindung, kemasan di harapkan dapat melindungi produk yang ada di dalamnya dari berbagai faktor penyebab kerusakan baik yang disebabkan oleh faktor biologi, kimia maupun fisika.
3. Memudahkan pengiriman dan pendistribusian, dengan pengemasan yang baik suatu produk akan lebih mudah didistribusikan.
4. Memudahkan penyimpanan, Suatu produk yang telah dikemas dengan baik akan lebih mudah untuk di simpan.
5. Memudahkan penghitungan, dengan pengemasan jumlah atau kuantitas produk lebih mudah di hitung.
6. Sarana informasi dan promosi
7. dan lain sebagainya.

Untuk fungsi nomor 6 merupakan fungsi tambahan, namun demikian saat ini justru fungsi kemasan sebagai media informasi dan promosi ini menjadi sangat penting. melalui kemasan yang telah di beri label dapat disampaikan informasi-informasi mengenai produk yang terdapat di dalamnya seperti komposisi produk, kandungan gizi, khasiat atau manfaat produk dan lain sebagainya. serta dengan perancangan kemasan yang baik dan menarik, dengan bentuk kemasan yang unik, disertai dengan gambar-gambar yang menarik hal ini akan dapat meningkatkan nilai jual dari produk yang ada di dalamnya. Kemasan yang menarik dapat menarik perhatian dan menimbulkan rasa penasaran bagi konsumen untuk membeli produk tersebut. sehingga dengan demikian kemasan yang unik dan menarik akan dapat mendongkrak pasar produk tersebut.

c. Penggolongan Kemasan
Menurut Julianti dan Nurminah (2006), Kemasan dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa hal atau beberapa cara yaitu sebagai berikut :
1. Klasifikasi kemasan berdasarkan frekwensi pemakaian :
a. Kemasan sekali pakai (disposable) , yaitu kemasan yang langsung dibuang setelah dipakai, seperti kemasan produk instant, permen, dll.
b. Kemasan yang dapat dipakai berulangkali (multitrip) dan biasanya dikembalikan ke produsen, contoh : botol minuman, botol kecap, botol sirup.
c. Kemasan atau wadah yang tidak dibuang atau dikembalikan oleh konsumen (semi disposable), tapi digunakan untuk kepentingan lain oleh konsumen, misalnya botol untuk tempatair minum dirumah, kaleng susu untuk tempat gula, kaleng biskuit untuk tempat kerupuk, wadah jam untuk merica dan lain-lain.

2. Klasifikasi kemasan berdasarkan struktur sistem kemas (kontak produk dengan kemasan) :
a. Kemasan primer, yaitu kemasan yang langsung bersentuhan dengan produk yang di bungkusnya.
b. Kemasan sekunder, yang tidak bersentuhan langsung dengan produknya akan tetapi membungkus produk yang telah dikemas dengan kemasan primer
c. Kemasar tersier dan kuartener yaitu kemasan untuk mengemas setelah kemasan primer atau sekunder.

3. Klasifikasi kemasan berdasarkan sifat kekauan bahan kemasan :
a. Kemasan fleksibel yaitu bahan kemasan yang mudah dilenturkan tanpa adanya retak atau patah. Misalnya plastik, kertas dan foil.
b. Kemasan kaku yaitu bahan kemas yang bersifat keras, kaku, tidak tahan lenturan, patah bila dibengkokkan relatif lebih tebal dari kemasan fleksibel. Misalnya kayu, gelas dan logam.
c. Kemasan semi kaku/semi fleksibel yaitu bahan kemas yan memiliki sifat-sifat antara kemasan fleksibel dan kemasan kaku. Misalnya botol plastik (susu, kecap, saus), dan wadah bahan yang berbentuk pasta.

4. Klasifikasi kemasan berdasarkan sifat perlindungan terhadap lingkungan :
a. Kemasan hermetis (tahan uap dan gas) yaitu kemasan yang secara sempurna tidak dapat dilalui oleh gas, udara atau uap air sehingga selama masih hermetis wadah ini tidak dapat dilalui oleh bakteri, kapang, ragi dan debu. Misalnya kaleng, botol gelas yang ditutup secara hermetis.
b. Kemasan tahan cahaya yaitu wadah yang tidak bersifat transparan, misalnya kemasan logam, kertas dan foil. Kemasan ini cocok untuk bahan pangan yang mengandung lemak dan vitamin yang tinggi, serta makanan hasil fermentasi.
c. Kemasan tahan suhu tinggi, yaitu kemasan untuk bahan yang memerlukan proses pemanasan, pasteurisasi dan sterilisasi. Umumnya terbuat dari logam dan gelas.

5. Klasifikasi kemasan berdasarkan tingkat kesiapan pakai (perakitan) :
a. Wadah siap pakai yaitu bahan kemasan yang siap untuk diisi dengan bentuk yang telah sempurna. Contoh : botol, wadah kaleng dan sebagainya.
b. Wadah siap dirakit / wadah lipatan yaitu kemasan yang masih memerlukan tahap perakitan sebelum diisi. Misalnya kaleng dalam bentuk lembaran (flat) dan silinder fleksibel, wadah yang terbuat dari kertas, foil atau plastik.

d. Jenis-jenis bahan Kemasan

bahan atau material kemasan ada bermacam macam jenis dan masing-masing jenis bahan pengemas memiliki sifat, keuntungan dan kelemahan yang berbeda-beda. Tidak bisa dipungkiri bahwa dengan berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan teknologi semakin berkembang pula ilmu pengetahuan dalam bidang pengemasan khususnya material atau bahan kemasan. Bahan-bahan pengemas yang ada saat ini dimulai dari yang sederhana sampai bahan-bahan canggih yang dihasilkan dengan teknologi yang canggih pula. Semakin baik kualitas atau semakin canggih bahan kemasan tentu akan berbanding lurus dengan harga atau biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan atau menggunakannya.
Bahan-bahan kemasan yang ada saat ini diantaranya adalah kertas, plastik, gelas, kaleng/logam dan kemasan komposit yang merupakan perpaduan dari dua atau lebih bahan pengemas.

II. DESAIN KEMASAN

Kemasan agar menarik harus dirancang dan dibuat sebaik mungkin, dalam merancang atau merencanakan pembuatan suatu kemasan sebaiknya kita memperhatikan hal-hal seperti berikut ini :
1. Kesesuaian antara produk dengan bahan pengemasnya
Maksudnya adalah dalam menentukan bahan pengemas kita harus mempertimbangkan produk yang kita miliki. Jika produk kita berbentuk cairan seperti jus atau sirup, kita bisa memilih bahan pengemas seperti botol atau gelas plastik. Jika produk kita berupa makanan kering seperti keripik, kerupuk, atau yang lainnya kita bisa menggunakan plastik transparan dan lain sebagainya. Plastik dapat digunakan sebagai kemasan primer sekaligus dengan labelnya, juga bisa dimasukkan kedalam kemasan lain seperti dus kertas sebagai kemasan sekunder.
2. Ukuran Kemasan dan ketebalan bahan kemasan
Ukuran kemasan berkaitan dengan banyak sedikitnya isi yang diinginkan, sedangkan ketebalan berkaitan dengan keawetan dari produk yang ada didalamnya. Jika produknya sangat ringan seperti kerupuk sebaiknya kemasan di buat dalam ukuran relatif besar.
3. Bentuk kemasan
Agar kemasan menarik bentuk pengemas bisa dirancang dalam bentuk yang unik tergantung dari kreativitas perancangnya. Misalnya kemasan dus kertas bisa di buat seperti tabung, kubus, balok, trapesium atau bentuk-bentuk lainnya.

B. DESAIN LABEL

Label adalah suatu tanda baik berupa tulisan, gambar atau bentuk pernyataan lain yang disertakan pada wadah atau pembungkus sebagai yang memuat informasi tentang produk yang ada di dalamnya sebagai keterangan/ penjelasan dari produk yang dikemas.
Label kemasan bisa dirancang atau didesain baik secara manual menggunakan alat lukis atau yang lainnya maupun menggunakan software komputer. Desain yang dibuat secara manual mungkin akan mengalami sedikit kesulitan ketika mau digunakan atau diaplikasikan sedangkan dengan menggunakan komputer tentunya akan lebih mudah.

Dewasa ini keberadaan software – software komputer sangat membantu para desainer untuk merancang desain label yang baik, menarik, dan artistik sehingga dapat meningkatkan daya tarik produk terhadap konsumen. Suatu produk yang sama jika dikemas dalam kemasan dengan desain label berbeda sangat dimungkinkan daya jualnya juga berbeda.

Merancang atau mendesain label kemasan sangatlah tergantung pada kreativitas para desainernya, baik ukuran, bentuk, maupun corak warnanya. Namun demikian ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat label kemasan yaitu :

1. Label tidak boleh menyesatkan
Apa saja yang tercantum dalam sebuah label baik berupa kata-kata, kalimat, nama, lambang, logo, gambar dan lain sebagainya harus sesuai dengan produk yang ada di dalamnya.
2. Memuat informasi yang diperlukan
Label sebaiknya cukup besar (relatif terhadap kemasannya), sehingga dapat memuat informasi atau keterangan tentang produknya.
3. Hal-hal yang seharusnya ada atau tercantum dalam label produk makanan adalah sebagai berikut :
a) Nama produk
Nama Produk adalah nama dari makanan atau produk pangan yang terdapat di dalam kemasan misalnya dodol nanas, keripik pisang, keripik singkong dan lain sebagainya.
b) Cap / Trade mark bila ada
Suatu usaha sebaiknya memiliki cap atau trade mark atau merek dagang. Cap berbeda dengan nama produk dan bisa tidak berhubungan dengan produk yang ada di dalamnya misalnya dodol nanas cap “Panda”, Kecap Ikan cap “Wallet”, dsb.
c) Komposisi / daftar bahan yang digunakan
Komposisi atau daftar bahan merupakan keterangan yang menggambarkan tentang semua bahan yang digunakan dalam pembuatan produk makanan tersebut. Cara penulisan komposisi bahan penyusun dimulai dari bahan mayor atau bahan utama atau bahan yang paling banyak digunakan sampai yang terkecil.
d) Netto atau volume bersih
Netto atau berat bersih dan volume bersih menggambarkan bobot atau volume produk yang sesungguhnya. Apabila bobot produk berarti bobot produk yang sesungguhnya tanpa bobot bahan pengemas.
e) Nama pihak produksi,
Nama pihak produksi adalah nama perusahaan yang membuat atau mengolah produk makanan tersebut.
f) Distributor atau pihak yang mengedarkan bila ada.
Dalam kemasan juga harus mencantumkan pihak-pihak tertentu seperti pengepak atau importir bila ada.
g) No Registrasi Dinas Kesehatan
Nomor registrasi ini sebagai bukti bahwa produk tersebut telah teruji dan dinyatakan aman untuk dikonsumsi.
h) Kode Produksi
Kode produksi adalah kode yang menyatakan tentang batch produksi dari produk pada saat pembuatan yang isinya tanggal produksi dan angka atau hurup lainnya yang mencirikan dengan jelas produk tersebut.
i) Keterangan kadaluarsa
Keterangan kadaluarsa adalah keterangan yang menyatakan umur produk yang masih layak untuk dikonsumsi. Menurut Julianti dan Nurminah (2006), keterangan kadaluarsa dapat ditulis :
 Best before date : produk masih dalam kondisi baik dan masih dapat dikonsumsi beberapa saat setelah tanggal yang tercantum terlewati
 Use by date : produk tidak dapat dikonsumsi, karena berbahaya bagi kesehatan manusia (produk yang sangat mudah rusak oleh mikroba) setelah tanggal yang tercantum terlewati.

Permenkes 180/Menkes/Per/IV/1985 menegaskan bahwa tanggal, bulan dan tahun kadaluarsa wajib dicantumkan secara jelas pada label, setelah pencantuman best before / use by. Produk pangan yang memiliki umur simpan 3 bulan dinyatakan dalam tanggal, bulan, dan tahun, sedang produk pangan yang memiliki umur simpan lebih dari 3 bulan dinyatakan dalam bulan dan tahun. Namun demikian ada beberapa jenis produk yang tidak memerlukan pencantuman tanggal kadaluarsa yaitu sayur dan buah segar, minuman beralkohol, cuka, gula/sukrosa dan lainnya.
j) Logo halal
Untuk produk-produk yang telah mendapatkan sertifikasi ”halal” dari MUI harus mencantumkan logo halal yang standard disertai dengan nomor sertifikasinya.
k) Keterangan Lainnya
Selain yang telah diuraikan di atas masih ada lagi keterangan-ketrangan lain yang perlu dicantumkan dalam label kemasan makanan yang bermaksud memberi petunjuk, saran, atau yang lainnya demi keamanan konsumen.
4. Tulisan atau keterangan yang ada pada label harus jelas dan mudah di baca, tidak dikaburkan oleh warna latar belakang atau gambar lainnya.
5. Jumlah warna yang digunakan
Banyaknya warna yang digunakan dalam label akan berpengaruh terhadap biaya cetak, semakin banyak banyak warna yang digunakan, tentunya akan semakin besar biaya yang harus dikeluarkan.
6. Jenis cetakan yang dikehendaki
Desain yang kita buat akan dicetak pada media apa? Plastik, kertas, aluminium foil, atau lainnya.
Apakah akan dicetak dengan sablon atau menggunakan mesin modern?

Berkaitan dengan label kemasan kiranya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu
1. Label tidak boleh mudah terlepas dari kemasannya. Warna, baik berupa gambar maupun tulisan tidak boleh mudah luntur, pudar, atau lekang, baik karena pengaruh air, gosokan, maupun sinar matahari.
2. Label harus ditempatkan pada bagian yang mudah dilihat.
Software computer yang bisaanya banyak digunakan untuk melakukan desain seperti Corel Draw dan Adobe Photoshop. Namun demikian masih ada software-software lainnya yang dapat digunakan tergantung pada kebisaaan atau keahlian para desainernya.

Pencetakan desain label kemasan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin cetak tradisional maupun modern. Alat cetak tradisional seperti sablon, sedangkan dengan teknologi modern bisa menggunakan printer, mesin offset atau mesin-mesin berskala besar lainnya.

Referensi

Agustina, W. 2009. Desain Kemasan dan Label Produk Makanan. Kumpulan Modul pelatihan. UPT B2PTTG-LIPI Subang.

Triyono, A. 2002. Modul Pengemasan Produk Makanan. Kumpulan Modul Pelatihan. UPT B2PTTG-LIPI Subang.

Julianti, E. dan Nurminah, M. 2006. Teknologi Pengemasan. Departemen Teknologi Pertanian, Fakultas pertanian, Universitas sumatera utara. http://ecourse.usu.ac.id/content/teknologi/teknologi/textbook.pdf

July 7, 2011 Posted by | Bisnis, Dunia corat-coret, KEMASAN, sains, Uncategorized | 5 Comments

<

August 6, 2010 Posted by | Uncategorized | Leave a comment

Enzim (Penjelasan singkat dan aplikasinya dalam industri makanan dan minuman)

ENZIM,
Penjelasan singkat dan aplikasinya dalam industri makanan dan minuman

Oleh : Wawan Agustina, S.Si
Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
e-mail : wan_agustina@yahoo.co.id

A. Pendahuluan

Enzim merupakan senyawa berstruktur protein yang dapat berfungsi sebagai katalisator dan dikenal sebagai biokatalisator. Enzim berperan sebagai katalisator yang mengkatalisis reaksi-reaksi kimia yang terjadi dalam sistem biologis. Enzim dapat mengkatalisis sebuah reaksi yang secara reaksi kimia biasa tidak mungkin terjadi dan seperti halnya katalisator biasa, enzim juga tidak ikut bereaksi atau pun terurai menjadi produk reaksi.

Enzim dapat diperoleh dari sel-sel hidup dan dapat bekerja baik untuk reaksi-reaksi yang terjadi di dalam sel maupun di luar sel. Pemanfaatan enzim untuk reaksi-reaksi yang terjadi di luar sel Sekarang banyak diaplikasikan dalam dunia industri seperti industri makanan, detergen, penyamakan kulit, kosmetik, dll. Pemanfaatan enzim dapat dilakukan secara langsung menggunakan enzim hasil isolasi maupun dengan cara pemanfaatan mikroorganisme yang dapat menghasilkan enzim yang diinginkan.

B. Sumber-Sumber Enzim

Enzim dapat diperoleh dari makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan selain itu sumber enzim yang saat ini sangat dikenal dan banyak dimanfaatkan adalah mikroorganisme. Beberapa contoh enzim seperti bromelin sebagai protease bersumber dari tumbuhan yaitu nanas, papain sebagai protease dari pepaya, lisozim dari putih telur dan lain sebagainya. Meskipun banyak sumber enzim yang berasal dari hewan dan tumbuhan, namun sekarang pemanfaatan mikroorganisme sebagai sumber enzim lebih banyak diminati karena beberapa alasan. Adapun alasan-alasan tersebut antara lain, bahwa enzim dari mikroorganisme bisa dihasilkan dalam waktu yang sangat singkat bahkan dalam hitungan jam, proses produksinya bisa dikontrol, kemungkinan terkontaminasi oleh senyawa-senyawa lain lebih kecil, area produksi tidak harus luas, dan lain sebagainya.
Menurut (Agustina, 2004) ada berbagai macam enzim yang digunakan secara komersial berasal dari jaringan tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme yang terseleksi. Beberapa contoh enzim yang berasal dari hewan antara lain tripsin, rennet, lipase, dan kemotripsin. Selain dari hewan ada beberapa contoh yang bersumber dari tanaman seperti aktinidin, alfa amilase, beta amilase, bromelin, dan papain.

C. Sifat-sifat Kimiawi dan fisik Enzim
Enzim sebagai suatu senyawa yang berstruktur protein baik murni maupun tergabung dengan gugusan-gugusan kimiawi lainnya memiliki sifat yang sama dengan protein lain yaitu dapat terdenaturasikan oleh panas, terpresipitasikan / terendapkan oleh senyawa-senyawa organik cair seperti ethanol dan aseton juga oleh garam-garam organik berkonsentrasi tinggi seperti ammonium sulfat, dan memiliki bobot molekul yang relatif besar sehingga tidak dapat melewati membran semi permeabel atau tidak dapat terdialisis.

Beberapa jenis enzim tidak memerlukan komponen lain atau tambahan untuk mencapai aktivitasnya, namun ada beberapa enzim memerlukan molekul non protein lainnya yang biasanya terikat kuat dengan molekul proteinnya. Molekul lain lain yang terikat dalam enzim tersebut dinamakan sebagai kofaktor. Kofaktor dapat berupa senyawa anorganik seperti ion-ion logam ( Mg2+, Mn2+, Fe2+, Zn2+, dsb), selain itu juga dikenal adanya istilah koenzim, koenzim adalah senyawa organik dengan bobot molekul rendah yang terikat pada bagian protein enzim. Sedangkan proteinnya sendiri dinamakan apoenzim. Enzim akan menjadi aktif apabila Apoenzim bergabung atau berikatan dengan kofaktor atau koenzim.

Molekul-molekul enzim merupakan katalis yang sangat efisien dalam mempercepat pengubahan substrat menjadi produk-produk akhir. Menurut Pelczar and Chan, 1986, satu molekul enzim tunggal dapat melakukan pengubahan sebanyak seribu molekul substrat perdetik. Kenyataan ini sekaligus menjelaskan bahwa molekul enzim tidak dikonsumsi ataupun mengalami perubahan selama proses reaksi berlangsung. Namun demikian ada bebrapa hal yang perlu diperhatikan bahwa enzim tidaklah stabil aktivitasnya dapat berkurang atau bahkan menghilang oleh berbagai pengaruh baik kondisi fisik maupun kimia seperti suhu, pH, dan lain sebagainya. Ada dua ciri yng mencolok dari enzim yaitu (1) efisiensi katalitiknya yang tinggi dan (2) derajat kekhususannya (spesifitas) yang tinggi terhadap substrat tertentu.

D. Spesifitas Enzim
Enzim dalam kerjanya sebagai katalis biasanya memilki kespesifikan, yaitu bahwa enzim hanya bekerja untuk substrat khusus atau tertentu saja, namun demikian ada juga yang bekerja pada bermacam-macam jenis substrat.
Ada dua model yang menjelaskan tentang mekanisme kerja enzim terkait kespesifikannya terhadap substrat yaitu :
a. Model Kunci dan Gembok (Lock and Key)
Model ini diajukan oleh Emil Fischer pada tahun 1894 yang menjelaskan bahwa enzim dan substrat memiliki bentuk yang saling memenuhi seperti kunci dan gemboknya bentuknya kaku dan tetap (tidak berubah-ubah)
Contoh mekanisme reaksi dalam gambar :

Gambar 1. Mekanisme reaksi enzim model lock and key

b. Model Ketepatan Induksi (Induced-fit)
Model Ketepatan Induksi merupakan modifikasi model kunci dan gembok yang diajukan oleh Daniel Koshland pada tahun 1958. Ia menjelaskan oleh karena enzim memiliki struktur yang fleksibel, sehingga sisi aktifnya dapat secara terus menerus berubah bentuk sesuai interaksinya dengan substrat. Akibatnya, substrat tidak berikatan dengan sisi aktif yang kaku. Rantai-rantai samping asam amino dapat berubah sesuai dengan substrat dan mengijinkan enzim untuk menjalankan fungsi katalitiknya.
Contoh mekanisme reaksi dalam gambar :

Gambar 2. Mekanisme reaksi enzim model Induced-fit

E. Faktor-faktor yang mempengaruhi Aktivitas Enzim
Enzim sebagai biokatalisator berstruktur protein dalam mekanisme kerjanya aktiitasnya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu antara lain, pH, Suhu, konsentrasi substrat, konsentrasi enzim, kehadiran aktiator atau inhibitor.
a. pH (Derajat Keasaman)
pH merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan apabila kita bekerja dengan enzim, hal ini dikarenakan enzim hanya mau dan mampu bekerja pada kondisi pH tertentu saja. Suatu kondisi pH di mana enzim dapat bekerja dengan aktivitas tertinggi yang dapat dilakukannya dinamakan dengan pH optimum. Sebaliknya pada pH tertentu enzim sama sekali tidak lagi aktif atau bahkan rusak. Hal ini dapat dijelaskan karna kita ketahui bahwa enzim merupakan molekul protein, molekul protein kesetabilannya dapat dipengaruhi oleh tingkat keasaman lingkungannya, pada kondisi keasaman yang ekstrim molekul-molekul protein dari enzim akan rusak.
b. Suhu / Temperatur
Seperti halnya oleh pH, aktivitas kerja enzim juga dipengaruhi oleh temperatur lingkungan dimana ia bekerja. Seperti reaksi kimia biasa suhu biasanya dapat mempercepat proses reaksi, namun demikian pada titik suhu tertentu kecepatan reaksi yang dikatalisis oleh enzim akan mulai menurun bahkan aktivitasnya tidak lagi nampak. Kondisi suhu di mana enzim dapat menghasilkan aktivitas tertinggi dinamakan suhu atau temperatur optimum. Oleh karena enzim berstruktur protein, sebagaimana kita ketahui bahwa protein dapat dirusak oleh panas, sehingga pada suhu tinggi tertentu aktivitas enzim mulai menurun dan bahkan aktiitasnya menghilang. Hal ini sangat dimungkinkan karena terjadinya denaturasi atau kerusakan struktur protein oleh pengaruh panas. Panas yang berlebihan akan menybabkan terjadinya kerusakan struktur enzim yang dapat menybabkan kerusakan enzim baik secara keseluruhan maupun sebagian terutama sisi aktifnya.

c. Konsentrasi Substrat
Reaksi-reaksi biokimia yang diktalisis oleh enzim diperngaruhi pula oleh jumlah substrat. Jika kita melakukan pengujian konsentrasi substrat dari rendah ke tingi terhadap kecepatan reaksi enzimatis, maka pada awalnya akan diperoleh hubungan kesebandingan yang menyatakan kecepatan reaksi akan mkeningkat seiring dengan meninkatnya konsentrasi substrat, namun kemudian akan diperoleh data yang menyatakan pada konsentrasi substrat tinggi tertentu kecepatan reaksi tidak lagi bertambah. Pada kondisi ini konsentrasi substrat menjadi jenuh dan kecepatan reaksi menjadi maksimum yang sering juga disebut sebaai kecepatan maksimum (Vmax).
Hubungan antara konsentrasi substrat dan kecepatan reaksi biasanya dinyatakan dengan konstanta Michelis-Menten (KM). Nilai KM didefinisikan sebagai konsentrasi substrat tertentu pada saat kecepatan reaksi enzimatis mencapai setengah dari kecepatan maksimumnya. Hubungan tersebut dapat digambarkan dalam sebuah kurva yang dikenal sebaai Kurva Michelis-Menten seperti contoh pada ambar berikut :

Gambar 3. Kurva hubungan antara konsentrasi substrat dan kecepatan reaksi

d. Konsentrasi Enzim
Peningkatan konsentrasi enzim dalam suatu reaksi biokimia akan meningkatkan kecepatan kecepatan reaksi yang dikatalisisnya.

Gambar 4. Kurva Hubungan antara konsentrasi enzim dan kecepatan reaksi

e. Kehadiran aktivator/inhibitor.
Aktivator adalah zat atau senyawa yang dapat menyebabkan meninkatnya aktiitas enzim apabila ia berada pada saat terjadinya reaksi, dan sebaliknya inhibitor adalah zat yang dapat menghambat aktivitas reaksi.

F. Peran enzim dalam metabolisme
Metabolisme merupakan sekumpulan proses-proses reaksi kimia yang terjadi atau berlangsung pada makhluk hidup untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Reaksi-reaksi dalam peoses metabolisme dapat dikategorikan menjadi dua proses utama yaitu meliputi :
(1) Proses sintesis molekul besar menjadi molekul yang lebih kecil (anabolisme)
(2) Proses Penyusunan molekul besar dari molekul yang lebih kecil (katabolisme).

G. Aplikasi Enzim dalam Industri makanan dan Minuman
Dalam bidang bioteknologi enzim merupakan salah satu produk yang banyak digunakan atau diaplikasikan untuk keperluan industri seperti industri makanan, minuman, farmasi, kosmetik dan lain sebagainya. Dalam industri makanan atau minuman enzim banyak digunakan untuk menghasilkan atau meningkatkan kualitas dan keanekaragaman produk. Beberapa contoh produk yang memanfaatkan enzim seperti keju, yoghurt, dan lain sebagainya (Philips, 2009). Beberapa contoh jenis enzim yang umum dan banyak digunakan dalam industri makanan dan minuman antara lain :

a. Rennet
Rennet adalah enzim yang digunakan dalam proses pembuatan keju (cheese) yang terbuat dari bahan dasar susu. Susu adalah cairan yeng tersusun atas protein yang terutama kasein yang dapat mempertahankan bentuk cairnya. Rennet merupakan kelompok enzim protease yang ditambahkan pada susu pada saat proses pembuatan keju. Rennet berperan untuk menghidrolisis kasein terutama kappa kasein yan berfungsi mempertahankan susu dari pembekuan. Enzim yang paling umum yang diisolasi dari rennet adalah chymosin. Chymosin dapat diisolasi dari beberapa jenis binatang, mikroba atau sayuran, akan chymosin yang berasal dari mikroorganisme lokal atau asli yang belum mendapat rekayasa gebetik kadang aplikasinya dalam pembuatan keju atau cheddar menjadi kurang efektif.

b. Laktase
Lactase adalah enzim likosida hidrolase yang berfungsi untuk memecah laktosa menjadi gula penyusunnya yaitu glukosa dan galaktosa. Tanpa suplai atau produksi enzim laktase yang cukup dalam usus halus, akan menyebabkan terjadinya lactose intolerant yang mengakibatkan rasa tidak nyaman diperut seperti kram, banyak buang gas, atau diare) dalam saluraqn cerna selama proses pencernaan produk-produk susu. Secara komersial laktase digunakan untuk menyiapkan produk-produk bebas laktosa seperti susu. Ini juga dapat digunakan untuk membuat es krim untuk membuat cream dan rasa produk yang lebih manis. Laktase biasanya diisolasi dari yeast (Kluyveromyces sp.) dan fungi (Aspergillus sp.).

c. Katalase
Katalase adalah enzim yang dapat diperoleh dari hati sapi (bovine livers) atau sumber microbial. Dan digunakan untuk mengubah hydrogen peroksida menjadi air dan molekul oksigen. Enzim ini digunakan secara terbatas pada proses produksi keju.

d. Lipases
Lipase digunakan untuk memecah atau menghidrolisis lemak susu dan memberikan flavour keju yang khas. Flavour dihasilkan oleh karena adanya asam lemak bebas yang diproduksi ketika lemak susu dihidrolisis. Selain pada industri engolahan susu juga pada industri lainnya.

e. Protease
Protease adalah enzim yang berfungsi untuk menghidrolisis ikatan peptida dari senyawa-senyawa protein dan diurai menjadi senyawa lain yang lebih sederhana (asam amino). Contoh protease yang dapat dimanfaatkan adalah bromelin danpapain sebagai bahan pengempuk daging.

f. Amilase
Amilase merupakan enzim yang berfungsi untuk menghidrolis amilum (pati) menjadi gula-gula sederhana seperti dekstrin dan glukosa. Enzim amilase dapat digunakan dalam proses pembuatan biskuit, minuman beralkohol, dan pembuatan sirup glukosa.
Daftar Pustaka

Agustina, W. 2004. Pemanfaatan Bacillus licheniformis sebagai Bakteri Penghasil Enzim Protease dengan Medium Tepung Biji Amaranth. PS MIPA Unsoed, Purwokerto.
Anonim, 2009, Enzim, http://www.Wikipedia.com
Anonim, Production Of Industrial enzyme in Fermentation.
Pelczar, M.J., dan Chan, E.C.S, 1986 Dasar-dasar Mikrobiologi. Penerjemah : R.S. Hadioetomo, dkk. UI Press. Jakarta.
Phillip, T, 2009, Enzymes Used in the Dairy Industry, http://www.About.com
Widiati, H.S., 200, Isolasi, Pemurnian dan Penentuan beberapa sifat protease dari Pseudomonas cocovenenans B-154 yan difraksinasi dengan garam ammonium sulfat. Skripsi PS MIPA Unsoed, Purwokerto

November 23, 2009 Posted by | Dunia corat-coret, sains | , , , , , , , , | 5 Comments

MAJALAH DINDING SEKOLAH DAN PENGELOLAANNYA

Majalah Dinding Sekolah Dan Pengelolaannya

Oleh : Wawan Agustina, S.Si

Klub Penulis Subang
Wanwa03@gmail.com

A. Pendahuluan

Majalah dinding atau lebih dikenal dengan singkatannya “MADING” yaitu salah satu jenis media atau sarana penyampaian informasi dan penyaluran minat dan bakat yang dikerjakan dan dikelola oleh kelompok tertentu serta diperuntukkan untuk kalangan tertentu pula.
Mading sangat mungkin dijumpai di banyak tempat seperti mesjid, sekolah, perpustakaan umum, instansi pemerintahan dan lain sebagainya. Hal ini karena mading bisa dikelola oleh siapa saja dan bisa ditempatkan dimana saja. Misalnya Mading Ikatan Remaja Mesjid, Mading LSM, Mading Kampus, Mading Sekolah dan lain-lain.
Mading sekolah adalah mading yang dikelola oleh suatu sekolah tertentu baik siswa maupun guru dan biasanya disajikan agar dapat dibaca oleh warga sekolah tersebut. Mading sekolah selain sebagai media untuk menyampaikan informasi (pengumuman atau berita) juga dapat dijadikan ajang atau sarana pengembangan minat dan bakat baik siswa maupun guru dalam bidang tulis menulis.
Mading juga sangat berperan dalam mengasah kemampuan siswa untuk belajar berorganisasi secara baik, melatih kedisiplinan karena harus bekerja sesuai jadwal, belajar untuk lebih kreatif dalam mencari ide-ide baru untuk tema dan tampilan mading, dan melatih siswa untuk bisa lebih bertanggungjawab terhadap tugas yang harus dikerjakannya.
Mengingat keberadaan mading sekolah memiliki arti yang penting baik bagi siswa maupun guru, maka hendaknya mading sekolah dikelola secara baik agar tetap eksis. Dengan pengelolaan yang baik, diharapkan mading akan selalu dapat terbit pada waktunya dengan tema-tema dan tampilan-tampilan yang menarik.

B. Manajemen Mading Sekolah

Mengelola sebuah media informasi tentu memerlukan kepengurusan yang baik, tertata rapi, dan berjalan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Mading sekolah sekalipun diperlukan suatu kepengurusan atau organisasi agar semuanya bisa berjalan lancar.
Menurut Rachim (2006), dalam pengelolaannya mading harus memiliki dua manajemen yaitu manajemen organisasi dan manajemen redaksional. Kedua manajemen tersebut memiliki tugas yang berbeda satu sama lain.

a. Manajemen Organisasi
Manajemen organisasi dalam pengelolaan mading sebagai sebuah organisasi intra sekolah sangatlah diperlukan, karena tanpa organisasi ini pengelolaan mading akan sulit untuk berjalan dengan baik.
Manajemen organisasi dalam pelaksanaan tugasnya lebih bersifat administratif dan tidak berhubungan secara langsung dengan hal teknis penerbitan mading. Keberadaan struktur atau jabatan manajemen organisasi mading tergantung dari kebutuhan pengelolaan mading itu sendiri.
Menurut Rachim (2006), Manajemen organisasi mading biasanya dipimpin oleh seorang pemimpin umum, dibantu oleh beberapa seksi seperti seksi Administrasi, Keuangan, Sponsorship, dll., sesuai kebutuhan Mading.
Seorang pemimpin umum bertugas mengkoordinasikan kegiatan secara keseluruhan, bagian keuangan/bendahara bertugas mengatur keuangan terkait biaya operasional dan biaya penerbitan, bagian administrasi/sekretaris berperan terkait dengan surat menyurat terutama yang berhubungan dengan pihak luar seperti permohonan kesediaan wawancara atau lainnya. Bagian sponsorship bertugas mencari pihak-pihak yang mau berkontribusi dengan beriklan atau menyampaikan ucapan selamat dll, dengan perjanjian tertentu.

b. Manajemen Redaksional
Manajemen redaksional adalah manajemen yang bertanggungjawab langsung secara teknis terhadap proses penerbitan mading mulai dari penyusunan tema, penyusunan materi, pencarian bahan/berita sampai publikasi. Manajemen redaksional biasanya dipimpin oleh seorang pemimpin redaksi dan di bantu oleh bagian-bagian lain yang ada di bawahnya seperti redaktur pelaksana, redaktur, reporter dan yang lainnya sesuai kebutuhan mading.
Pemimpin redaksi adalah orang yang adalah orang yang bertanggungjawab penuh atas materi atau isi yang disajikan dalam mading. Redaktur pelaksana bertugas mengkoordinasikan tugas-tugas yang menyangkut keredaksian kepada para redaktur. Redaktur bertugas memberikan instruksi kepada para reporter untuk melakukan peliputan atau pencarian berita atau informasi yang akan disajikan. Setelah mendapat laporan atau bahan-bahan informasi dari reporter, tugas redaktur selanjutnya adalah melakukan proses editing naskah/tulisan serta melakukan rapat koordinasi untuk menentukan kelayakan naskah atau tulisan untuk diputuskan apakah tulisan tersebut layak untuk dipublikasikan atau tidak. Sedangkan seorang reporter bertugas mencari berita atau bahan informasi di lapangan sesuai dengan instruksi redaktur atau atas kemauan sendiri.
Dari uraian tentang manajemen mading sekolah dapat digambarkan contoh organisasi mading sekolah sebagai berikut :

Gambar. 1. Contoh Struktur Organisasi Mading
Struktur organisasi mading dapat dibuat disesuaikan dengan kebutuhan mading dengan mempertimbangkan jumlah personil, banyaknya kegiatan dan hal-hal lainnya, dan hal lain yang harus diperhatikan dalam penentuan struktur organisasi mading adalah bahwa penugasan sebaiknya disesuaikan dengan bakat dan kemampuan anggota.

C. Pembuatan Mading Sekolah

Setelah susunan kepengurusan atau Struktur Organisasi mading terbentuk, maka tahapan selanjutnya yang harus dijalankan oleh tim adalah pembuatan mading yang harus dikerjakan melalui beberapa tahapan. Agar pelaksanan pembuatan mading ini maka hendaknya setiap personil harus disiplin dan bertanggungjawab terhadap apa yang menjadi tugasnya.
Sebelum masuk pada pembuatan mading itu sendiri sebaiknya Tim Mading melaksanakan rapat untuk mendiskusikan hal-hal yang penting agar diketahui dan difahami bersama oleh setiap personil Mading. Adapun hal-hal yang perlu didiskusikan diantaranya.
a. Waktu Terbit
Waktu terbit mading perlu menjadi bahan diskusi, hal ini karena ada beberapa alasan salah satunya agar pelaksanaan kegiatan pembuatan mading itu tidak mengganggu waktu belajar seperti situasi menjelang pelaksanaan ujian. Selain itu waktu terbit mading harus diperhatikan jangan sampai mading terbit menjelang liburan sekolah, sebab apabila mading terbit dan di pasang menjelang libur sekolah mading itu akan sia-sia karena tidak ada yang membaca.

Waktu terbit Rutin mading pun sebaiknya diperhatikan dan dijadwalkan sedemikian rupa sehingga mading bisa terbit secara rutin dan waktu terbitnya juga tepat. Penerbitan mading sekolah bisa dilakukan misalnya setiap 2 minggu sekali atau setiap satu bulan sekali. Penggantian mading sebaiknya jangan terlalu cepat ataupun terlalu lama sebab bila mading diganti terlalu cepat barangkali belum sempet dibaca orang lain sehingga sangat sayang jika apa yang telah dikerjakan tidak berguna. Begitupula jika penggantian mading dilakukan terlalu lama mungkin akan menimbulkan efek bosan bagi pembaca, sehingga mereka enggan untuk datang melihat mading.

b. Tema
Mading yang diterbitkan sebaiknya memiliki Tema yang berbeda-beda untuk setiap kali terbit. Hal ini dimaksudkan agar pembaca tidak bosan dengan satu tema yang disajikan dan juga diharapkan dapat menambah wawasan para pembaca tentang tema-tema yang disajikan.

Pemilihan tema mading sangat bebas bisa, misalnya mengenai remaja, IPTEK, Seputar Kegiatan Nasional atau Internasional terkini, atau juga dapat disesuaikan dengan bulan-bulan terbit seperti bila terbit bulan januari bisa mengulas masalah tahun baru, bila terbit bulan April bisa mengulas masalah kepahlawanan atau semangat Juang R.A. Kartini, dll.

c. Rubrik
Rubrik mading merupakan topik-topik yang dapat disajikan dalam mading. Rubrik mading bisa saja sama setiap kali terbit, atau bisa juga berubah jika diperlukan. Jumlah dan jenis rubrik dalam mading tergantung dari kesepakatan bersama anggota tim. Apabila rubrik sudah ditentukan maka langkah berikutnya akan memudahkan dalam pembagian pelaksanaan tugas. Misalnya setiap rubrik yang sudah ditentukan dibebankan kepada dua, tiga, atau lebih anggota dan mereka bertanggungjawab untuk mengisi rubrik tersebut.

Meskipun rubrik mading dapat berubah-ubah, namun sebaiknya ada beberapa rubrik yang dipertahankan setiap kali terbit. Beberapa contoh rubrik yang dapat dimuat dalam mading sekolah misalnya :
- Berita Seputar Sekolah
- Cerpen
- Puisi
- Sahabat mading
- Surat Pembaca
- Profil Siswa / Guru
- Dll.

d. Jadwal Kerja
Dalam pelaksanan kegiatan pembuatan mading penjadwalan adalah sesuatu yang harus dibuat apabila mading ingin bisa terbit tepat waktu dengan hasil yang memuaskan. Penjadwalan bisa didasarkan pada tahapan-tahapan kegiatan yang akan dilaksanakan seperti batas akhir pengumpulan materi, penyortiran materi layak terbit atau tidak, editing, layouting, dekorasi dll. Jadwal yang sudah ditetapkan sebaiknya dapat dilaksanakan dengan sebaik mungkin.
Tahapan-tahapan yang harus dilalui dalam pembuatan mading adalah sebagai berikut :

a. Pengumpulan Materi
Pengumpulan materi merupakan tugas seorang reporter. Materi yang dapat ditampilkan dalam mading dapat berasal dari mana saja seperti :
1. Hasil Studi Pustaka
Studi pustaka dapat dilakukan melalui buku, majalah, koran, internet, dan lain sebagainya.
2. Hasil Survey atau pemantauan langsung di lapangan
Seorang reporter dapat mencari sumber berita dengan terjun langsung ke lapangan untuk meliput peristiwa atau kegiatan-kegiatan yang terjadi di lingkungan baik sekolah maupun masyarakat.
3. Hasil Interview/Wawancara
Wawancara dapat dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung dari orang-orang yang bersangkutan seperti pakar, praktisi, profesional, pengamat, pelaku, korban, dll.
4. Menerima Pengiriman Materi
Selain harus mencari materi mading juga dapat diperoleh dengan cara menawarkan kepada orang lain untuk mengirimkan naskah atau tulisan berkaitan dengan sebuah tema tertentu yang disediakan untuk mengisi rubrik-rubrik tertentu.

Untuk mendapatkan data-data atau materi yang dibutuhkan oleh seorang reporter, seorang reporter memerlukan persiapan baik persiapan secara peralatan maupun persiapan mental. Peralatan-peralatan yang harus dimiliki seorang reporter misalnya kamera, tape recorder, kertas, ballpoint, dll. Adapun persiapan mental meliputi pelatihan kemampuan menangkap informasi, meningkatkan rasa percaya diri, dan membekali diri dengan pemahaman tentang etika yang baik sebagai seorang reporter seperti etika dalam berwawancara, etika ketika memasuki lokasi peliputan berita dll.

b. Pemilihan Materi
Materi yang diperoleh bisa saja sangat banyak atau lebih dari cukup untuk mengisi mading atau mungkin juga materi-materi yang diperoleh kurang layak atau kurang pantas untuk ditampilkan. Oleh karena itu selanjutnya tim redaktur harus melakukan pemilihan materi yang bisa dimuat atau dapat diterbitkan.

c. Editing
Setelah melakukan penyortiran materi maka langkah selanjutnya adalah melakukan proses editing terhadap tulisan, gambar atau pun foto yang akan dimuat dalam mading. Proses editing terhadap tulisan perlu dilakukan untuk mengurangi bahkan memperbaiki kesalahan-kesalahan pengetikan atau penulisan. Adapun editing terhadap foto atau gambar dilakukan untuk mempercantik tampilannya.

d. Lay Out / Pengaturan Tata Letak
Pengaturan tata letak dilakukan agar tampilan mading bisa memberikan sajian yang menarik bagi pembaca, tidak memberikan kesan asal jadi dan membosankan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam lay out misalnya penempatan rubrik, penentuan ukuran kolom rubrik, penempatan lukisan/gambar/ foto dsb.

e. Menghias mading
Setelah di layout dengan baik untuk lebih mempercantik tampilannya sebaiknya mading diberi hiasan-hiasan baik berupa gambar atau penambahan pernak-pernik lainnya. Setelah mading di hias maka mading siap diterbitkan
D. Evaluasi Mading

”Segalanya tak ada yang sempurna” mungkin pepatah itu harus selalu kita pegang untuk lebih memperbaiki diri kita dan apa yang kita kerjakan di masa yang akan datang. Begitu pula halnya dalam pembuatan mading, setelah mading diterbitkan dan di baca oleh khalayak atau keluarga besar sekolah maka ada baiknya Tim Mading melakukan evaluasi baik berdasarkan pengamatannya maupun berdasarkan hasil kuisioner pembaca terhadap mading yan disajikan. Penilaian-penilaian, kritik dan saran dari pembaca dapat dijadikan nodal perbaikan di masa yang akan datang.

E. Keberlanjutan Mading Sekolah

Agar mading sekolah bisa tetap bertahan dan bisa terbit sesuai waktu yang telah ditentukan maka perlu dilakukan pengelolaan mading yang baik, terutama pengelolaan terhadap personilnya. Supaya mading tetap berjalan maka sebaiknya dibentuk tim mading yang solid dan setiap saat diberikan pembinaan atau bahkan apresiasi dari pihak sekolah.

Daftar Pustaka

Anonim, 2008. Cara Guampaang Mengelola Mading Sekolah. Elfata Online.
Rachim, M. D. 2006. Manajemen Majalah Dinding Sekolah. http://frirac.multiply.com/journal/item/13/Manajemen_Mading_Sekolah_Makalah

June 4, 2009 Posted by | Dunia corat-coret | , , , , | 34 Comments

Sebuah Perjalanan Bukan Tanpa Akhir

Setapak demi setapak kaki ini melangkah, jejak demi jejak kita tinggalkan, namun kita tak pernah tahu sejauh mana kita akan terus melangkah dan sebanyak apa jejak yang kan kita tinggalkan.

Kita dulu tiada, kemudian ada dari tak tahu apa-apa sampai tahu banyak hal tentang dunia. Kita selalu asyik menjalani kehidupan ini meskipun kadang judulnya kita sedang berada dalam masalah, namun masalah demi masalah ternyata semua terselesaikan pada waktunya. Oleh karenanya kita terbuai dalam indahnya hidup tanpa menyadari bahwa suatu saat kita akan kembali menghadap sama pemberi hidup Allah SWT.

Sadarlah wahai jiwa kita hidup karena kekuasaanNya dan akan kembali dalam ketakberdayaan. Kita akan mati, Kita akan pergi tingalkan dunia. Oleh karena itu saya ingatkan pada diri saya dan jiwa-jiwa yang menyadari bahwa kita akan kembali dengan segala pertangunan jawab kita yang akan memberikan kita pilihan Syurga atau Neraka.

Robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wafilakhiroti hasanata waqiinaa ‘adzaabannaar.. Amiiii…………….n.

May 6, 2009 Posted by | Dunia corat-coret | , , , | Comments Off

Sablon Plastik Kemasan

SETTING GAMBAR DESAIN LABEL DAN TEKNIK SABLON

 

Oleh :

Wawan Agustina, S.Si

Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia

Balai Besar pengembangan Teknologi Tepat Guna

Wan_agustina@yahoo.co.id

 

 

A.     Alat dan bahan

 

ALAT

Alat alat yang dugunakan dalam penyablonan meliputi :

Ø       Seperangkat meja cetak                                    

Ø       Screen

Ø       Rakel

Ø       Karet Busa

Ø       Lampu neon dan Bohlam

Ø       Pisau Cutter (Besar dan kecil)

Ø       Gunting

Ø       Penggaris (mistar)

Ø       Penggaris busur tipis

Ø       Hair dryer / kipas angin

Ø       Botol Semprot

Ø       Papan penjepit

 

BAHAN

Ø       Film Sablon

Ø       Obat Afdruk

Ø       Penghapus obat afdruk

Ø       Tinta

Ø       Pelarut atau bahan pencampur

Ø       Lakban / Isolatif

Ø       Kertas transparan (kalkir)

 

B.      Tahapan Penyablonan

Tahap-tahap penyablonan secara singkat telah di bahas pada bab sebelumnya, namun untuk lebih jelas dan lebih mengerti sehingga lebih mudah dalam mempraktekkannya dalam bab ini akan dibahas secara lebih rinci. Bacalah bab ini dengan seksama sampai anda mengerti dan memahami dengan baik. Adapun tahapan-tahapan dalam mencetak dengan teknik sablon adalah sebaai berikut :

a.             Pembuatan Gambar atau Film

Pembuatan gambar merupakan langkah awal dalam teknik sablon. Tulisan atau gambar yang ingin kita cetak dengan teknik sablon terlebih dahulu digambar di atas kertas kalkir sebagai masternya. Membuat gambar bisa dilakukan secara manual maupun menggunakan komputer. Menggambar secara manual dapat dilakukan dengan menggunakan tinta spidol atau rapido berwarna gelap (hitam) agar tidak bisa ditembus cahaya. Cara mengambar dengan mengunakan komputer biasanya menggunakan program atau software desain grafis seperti corel draw, adobe photoshop, dll. Gambar yang telah dibuat dicetak mengunakan printer berwarna hitam. Ketegasan warna sangat penting untuk hasil cetakan yang bagus, untuk itu disarankan print gambar atau desain dilakukan menggunakan printer laserjet. Untuk warna degradasi atau warna tipis (raster) disarankan untuk menggunakan print quality pada 300 dpi.

Dalam membuat gambar harus diperhitungkan seberapa banyak warna yang akan dipakai saat penyablonan. Untuk cetakan satu warna kita cukup membuat satu film saja. Sedangkan untuk cetakan beberapa warna kita harus membuat film sebanyak warna yang diinginkan sesuai dengan kelompok warnanya. Untuk memudahkan pada saat menyablon lebih dari satu warna dengan posisi yang tidak teratur maka pada masing masing kelompok warna diberi tanda penghubung pada posisi tertentu, biasanya pada bagian tepi dengan kode ”+”.

Berikut ini diberikan contoh desain dan setting gambar untuk sablon. Desain dilakukan dengan menggunakan Software Corel Draw. Contoh menampilkan desain dalam 2 warna yaitu warna kuning dan warna merah. Setelah desain selesai lakukanlah setting untuk memisahkan kelompok warna.

Setelah diperoleh desain seperti diatas lalu lakukan pemisahan desain berdasarkan kelompok warna. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menggandakan gambar desain di atas dengan cara mengkopi.

Setelah digandakan pemisahan warna dilakukan dengan membuang warna lain yang tidak diperlukan pada kelompok warna yang diinginkan. Ketika kita ingin mengelompokkan warna merah, buang seluruh komponen yang berwarna selain merah (gambar 3.a), begitu juga ketika kita ingin mengelompokkan warna kuning, maka kita harus membuang seluruh komponen warna yang tidak berwarna kuning (Gambar 3.b).

Setelah semua komponen warna terpisah (gambar 3.a dan 3. b) maka langkah selanjutnya adalah mengubah seluruh komponen warna tersebut menjadi warna hitam (Gambar 3.c dan 3.d). Gambar 3.c adalah hasil perubahan dari kelompok warna merah, swedangkan Gambar 3.d. adalah hasil penrubahan dari kelompok warna kuning. Gambar yang berwarna hitam inilah yang selanjutnya harus diprint di atas kertas kalkir dan dijadikan sebagai film cetakan.

b.      Pembuatan Afdruk / Stensil

a.      Membersihkan screen

Sebelum dipakai screen yang baru dibeli terlebih dahulu dicuci dengan sabun cuci untuk menghilangkan kotoran dan debu. Gosok hingga berbusa, lalu semprot dan bilas sampai bersih. Menggosok screen harus hati-hati dengan mengunakan kain yang halus seperti potongan kain kaos/katun.

b.      Mengeringkan screen

Setelah dicuci screen dikeringkan. Pengeringan bisa dilakukan dengan cara menjemur di bawah panas matahari, menggunakan kipas angina, atau hair dryer.

c.       Membuat Campuran dan Mengoles Obat Afdruk

Obat afdruk dibuat dengan cara mencampurkan kira-kira satu sendok makan emulsi dengan 5-8 tetes sensitizer yang diaduk dalam piring atau mangkuk kecil hingga tercampur sempurna. Setelah itu tuangkan memanjang pada salah satu tepi screen kemudian ratakan menggunakan penggaris busur tipis. Pastikan pengolesan screen luar dan dalam sempurna dan merata, setelah itu keringkan dengan kipas angin atau hairdryer di tempat yang tidak terkena sinar matahari atau pencahayaan lainnya (agak gelap).

d.      Membuat cetakan

Sebelum membuat cetakan siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan,  yaitu: screen yang sudah diolesi obat afdruk, busa, papan penjepit, kaca, meja cetak dan lampu neon. Berdasarkan pencahayaan yang dilakukan ada dua cara pembuatan cetakan di screen.

1.      Pencahayaan atas

Untuk pencahayaan atas biasanya menggunakan sinar matahari, Caranya : Letakkan kaca diatas meja cetak, letakkan film di atas kaca, lalu letakkan screen dengan bagian dalam di sebelah atas, masukkan busa ke dalam screen, tambahkan papan penjepit, tekan dengan jari-jari tangan, lalu angkat dan sinari dengan cahaya matahari yang terang sekitar 30-40 hitungan cepat (± 10-15 dtk). Setelah selesai penyinaran ambil screen-nya lalu siram dengan air bersih dan semprot perlahan-lahan sampai membentuk lubang sesuai dengan gambar pada film.  Hal yang perlu diperhatikan jika kita melakukan cara ini adalah intensitas cahaya, jadi bisa jadi hitungan di atas kurang tepat sehingga kita bisa mempelajarinya sendiri berapa waktu yang tepat.

2.      Pencahayaan bawah

Pada prinsipnya hampir sama dengan nomor satu yaitu : Letakkan kaca diatas meja cetak, letakkan film diatas kaca, lalu letakkan screen dengan bagian dalam di sebelah atas, masukkan busa ke dalam screen, tambahkan papan penjepit, tambahkan beban atau pemberat, lalu nyalakan lampu neon. Lama penyinaran bisa disesuaikan dengan lampu yang digunakan. Untuk lampu TL 20 watt atau neon 100 watt bisa membutuhkan waktu 6-12 menit. Setelah selesai penyinaran ambil screen-nya lalu siram dengan air bersih dan semprot perlahan-lahan sampai membentuk lubang sesuai dengan gambar pada film.

 

                  Setelah dicuci dan yakin gambar terlubangi dengan baik, siram screen dengan air secukupnya lalu keringkan dengan cara dijemur, dikipasi atau di hair dryer. Jika pada saat pencucian ada bagian yang rusak, atau lubang-lubang kecil yang tidak diinginkan maka dapat dilakukan perbaikan dengan cara menempelkan obat afdruk yang sama menggunakan kuas kecil atau batang korek yang diruncingkan.

                  Sebenarnya lamanya penyinaran juga dipengaruhi oleh tingkat kepekaan obat afdruk yang digunakan. Bagi pemula apabila saat pertama kali mencoba menemui kegagalan, maka jangan putus asa  untuk mencobanya lagi sampai berhasil. “Kegagalan adalah guru bagi sebuah keberhasilan”.

c.       Persiapan mencetak gambar

Sebelum mencetak siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan seperti, cutter, lak band, bohlamp 5 watt, tinta, Pengencer (M4/M3), kain bekas potongan dan rakel. Siapkan meja cetak dan pastikan kacanya bersih. Ganti neon dengan Bohlamp 5 watt, pasangkan screen pada klem yang terdapat ditepi meja cetak, tutup dengan lakband tepian kain screen yang menempel pada bingkai, sesuaikan posisi media cetak (kertas/plastik) diatas meja cetak dengan lubang cetakan pada screen, lalu kasih tanda pada kaca meja agar hasil cetakan tetap sama. Tuangkan tinta sesuai warna yang diinginkan, bila terlalu kental tambahkan pengencer secukupnya lalu aduk dengan rakel. Membuat penepat atau tanda batas bisa juga dilakukan setelah cat dituangkan ke atas screen caranya dengan mengetes dulu cetakan pada kertas, apabila semua warna atau gambar yang diinginkan sudah keluar baru cetak pada kaca meja. Tunggu hingga cat mengering, lalu tepatkan dengan bahan yang akan dicetak.

d.      Mencetak Gambar

Tuangkan tinta pada tepi bawah screen lalu sapukan denan rakel sambil sedikit ditekan, maka tinta akan keluar melalui pori-pori screen dan membentuk gambar pada media cetak. Untuk hasil yang memuaskan perlu dilakukan latihan yang cukup, sehingga kita tahu bagaimana baiknya. Hasil cetakan jangan langsung ditumpuk hal ini untuk menghindari kerusakan karena tinta tidak langsung kering.

e.      Membersihkan screen

Setelah selesai mencetak sebaiknya screen langsung dibersihkan. Apabila cetakan yang ada akan sering digunakan maka afdrukan jangan dihapus, cukup dibersihkan tinta-tintanya menggunakan pelarut dan buanglah lakbannya. Apabila memang cetakan tidak akan digunakan lagi maka hapuslah afdrukannya dengan cara : Setelah tinta dibersihkan dan lakband dibuang siramlah screen dengan air, oleskan obat pencuci lalu tunggu 2-4 menit, gosoklah menggunakan kain halus, lalu bilas sampai bersih. Apabila masih terdapat sisa-sisa tinta gosok dengan kain dengan menggunakan sedikit pelarut, lalu cuci dengan detergent dan bilas sampai bersih lalu keringkan. Apabila setelah selesai digunakan screen tidak langsung dibersihkan biasanya screen akan sulit dicuci dan tidak dapat dipakai lagi.

 

·         tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman penulis semata

·         Gambar ada di Penulis

 

 

April 30, 2009 Posted by | Bisnis, KEMASAN, Uncategorized | 10 Comments

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

April 24, 2009 Posted by | Uncategorized | 1 Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.